Sabtu, 13 Februari 2010

Utopia Hidup Sederhana Pejabat

St James, dalam Simplify Your Life, mengungkapkan sepanjang sejarah orang-orang bijak di setiap kebudayaan besar, hidup sederhana merupakan kunci kebahagiaan seseorang.

Apalagi jika sederhana dapat dimaknai sebagai sesuatu yang diperlukan orang, secukupnya dan seperlunya saja. Tidak berlebih dan tidak mewah.

Hipotesis Ditolak

Tapi bagi pejabat tinggi di negeri ini, hipotesis James itu ditolak! Kunci kebahagiaan yang hakiki bagi pejabat tinggi di negeri ini adalah kemewahan dan hidup berlebih-lebihan. Walau sebagian besar rakyat hidup dalam kondisi pas-pasan ,namun kaum elite tingkat atas apakah pejabat, aparatur negara bahkan politisi tidak peduli. Mereka berlomba hidup dalam kemewahan.

Kalau masalah imbauan hidup sederhana sering sekali dilontarkan para pejabat tinggi negara kita.Tapi itu hanya sebatas imbauan,sedangkan prakteknya nol besar, tetap saja budaya hidup konsumtif dan bergelimang kemewahan menjadi pilihan.

Imbauan hidup sederhana sudah dimulai sejak awal Orde Baru dengan dikeluarkannya Keppres No 47 Tahun 1992 tentang Pedoman Hidup Sederhana, yang telah dilengkapi Surat Edaran Menpan No 357/M.PAN/12/2001. Pada masa itu pemerintah meminta masyarakat hidup dengan pola sederhana, mengingat negara belum mampu memberi kehidupan layak. Rakyat disuruh mengetatkan pinggangnya yang ramping karena negara dalam keadaan pailit.

Pada masa kepemimpinan SBY, berkali-kali presiden mengintruksikan seluruh jajaran di bawahnya agar berhemat, dan melalui Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati telah dikeluarkan surat perintah penghematan yang berlaku untuk seluruh kementerian dan lembaga. Dalam suratnya kepada menteri dan pimpinan lembaga, Menkeu meminta segera melakukan penyisiran atas kegiatan-kegiatan yang tidak prioritas sehingga alokasi dananya dapat dihemat sampai 15 persen

Tapi kenyataannya, sampai periode ke dua jabatan beliau sebagai presiden, tetap saja pesan hidup sederhana itu hanya pemanis bibir, utopis. Bukan saja gaya hidup mewah para pembantu beliau, baik tingkat menteri, dirjen, sampai jajaran dibawahnya sangat wah, juga setiap pengesahan anggaran negara selalu ada anggaran peningkatan fasilitas pejabat tinggi negara.

Seperti polemik pergantian mobil dinas menteri yang lagi hangat belakangan ini, kian membuktikan pemborosan uang rakyat demi memuaskan syahwat konsumtif pejabat tinggi. Alasan pemerintah mengganti Toyota Camry yang telah 5 tahun menemani menteri KIB I dengan Toyota Crown Royal Saloon, yang konon berharga Rp 1.5 milyar terkait masalah pemakaian. Waktu 5 tahun merupakan masa pakai sebuah mobil, jadi harus diganti.

Padahal di Belanda, salah satu negeri terkaya di dunia dengan pendapatan per Kapita mencapai 22.570 euro, mobil dinas menterinya cuma mobil bekas! Mobil dinas yang dipakai Minister van Volkshuisvesting, Ruimtelijke Ordeningen Milieubeheer (Menteri Urusan Perumahan Rakyat, Tata Ruang, dan Pengelolaan Lingkungan), Jan Pronk (dulu menteri Kerjasama Pembangunan) adalah mobil bekas (tweedehand) dari menteri pendahulunya, Margreet de Boer.

Untuk mobil yang benar-benar sudah tak layak pakai, barulah diadakan mobil baru. Jenisnya terserah, sesuai selera para menteri. Namun negara membatasi bahwa harga mobil itu tidak boleh melebihi 44,54 sen euro per km x usia mesin. Jika usia mesin rata-rata 200.000 km, maka harga untuk mobil dinas menteri Belanda itu maksimal 89.080 euro. Jika diasumsikan 1 euro = 8.000 maka harga paling mahal mobil tersebut adalah Rp 712.640.000, tidak sampai seharga mobil mewah menteri kita.

Gagal Terus

Jangan dikira polemik pergantian mobil itu akan mengakhiri keistimewaan bagi pejabat tinggi di negara kita. Tidak lama lagi akan muncul polemik lain, entah itu soal kenaikan gaji pejabat tinggi, tunjangan, pembangunan rumah dinas, peningkatan fasilitas kesehatan, dan tetek bengek lainnya. Dan pemerintah selalu berdalil bahwa keistimewaan pejabat tinggi di negeri ini masih kalah dengan maju.

Gara-gara keinginan mengikuti negara maju, anggaran menjadi cekak. Dana yang seharusnya dialokasikan membangun berbagai fasilitas publik terpaksa disunat sehingga membuat rakyat sekarat. Petinggi negara terlena, mabuk kepayang, dan lupa daratan dalam kemewahan. Mereka lupa rakyatnya banyak yang melarat. Padahal, mereka aparat negara yang menurut Tap MPR No. II/MR/1998, harus senantiasa mengabdi dan setia kepada kepentingan, nilai-nilai dan cita-cita perjuangan bangsa dan negara berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Pola hidup mewah yang dipertontonkan kepada rakyat oleh pejabat atau aparatur negara berlawanan dengan nilai-nilai dan cita-cita perjuangan bangsa sebagaimana termaktub pada Pancasila dan UUD 1945, khususnya nilai-nilai kemanusiaan. Ya, akibat kecanduan hidup mewah di kalangan pejabat membuat mereka menghalalkan segala cara mendapatkannya, termasuk dengan korupsi.

Mereka tidak menyadari,di negara yang sudah mapan, justru orang yang bersahaja lebih disegani, berwibawa, dan dihormati daripada orang yang bergelimangan kemewahan, hidupnya hedonis. Mereka tanpa sadar menuhankan materi, kenikmatan duniawi , dan hedonis. Kekayaan yang mereka miliki, sudah dijadikan tuhan-tuhan baru. Disembah-sembah, dikejar-kejar, dan untuk meraihnya mereka rela mengorbankan jiwa-raga.

Toyohiko Kagawa, filsuf Jepang pernah mengatakan, jika kita ingin hidup bahagia, kita harus hidup sederhana. Apabila engkau memakai jas yang mahal, engkau pasti khawatir akan rusak, kotor atau hilang. Apabila engkau mengelilingi dirimu dengan barang mewah, engkau sering khawatir, barang itu hilang atau rusak. Di mana hartamu berada. di situ pikiranmu berada. Engkau akan terbelenggu, oleh sesuatu yang fana. Kalau tidak bahagia,buat apa Anda lagi hidup di dunia?

Ribut soal Administrasi, Rapat Pansus Diskors

Setelah keributan antara Ruhut Sitompul dan Akbar Faisal, "panasnya" suasana Pansus Angket Kasus Bank Century masih berlanjut. Kali ini, pimpinan Pansus Yahya Sacawirya asal Fraksi Partai Demokrat mempersoalkan kehadiran Chairuman sebagai anggota pengganti dari Fraksi Partai Golkar.

Chairuman dinilai belum bisa menjadi pengganti karena tidak adanya surat dari fraksi yang menugaskannya sebagai pengganti. "Kita harus tertib administrasi. Pak Chairuman itu ada suratnya apa tidak?," kata Yahya dalam rapat dengan sejumlah BUMN di Gedung DPR, Rabu (10/2/2010) sore.

Chairuman menjawab bahwa ia sudah tertera dalam daftar absen. Namun, pimpinan Pansus lainnya, Gayus Lumbuun juga mempersoalkan hal tersebut. Menurutnya, Chairuman sebaiknya tidak mengikuti rapat Pansus karena tidak memasukkan surat ke sekretariat Pansus.

Upaya Gayus "mengusir" halus Chairuman mendapat tentangan dari Fachri Hamzah. "Sudahlah Ketua, yang begini jangan dipermasalahkan. Kita lanjut saja, tapi yang bersangkutan tak punya hak bicara," ujar Fachri, anggota Fraksi Partai Golkar.

Namun, saran Fachri tak mendapat dukungan. Gayus justru menskors rapat dan meminta pimpinan fraksi di pansus untuk membahas soal surat izin itu. Pimpinan Fraksi Golkar di Pansus mempertanyakan hal tersebut. "Kalao anggota fraksi lain bolak balik ganti, kok enggak dipermasalahkan. Giliran Golkar dipertanyakan," ujarnya.

Chairuman merupakan pengganti dari anggota Pansus Melchias Mekeng. Pergantian anggota di Pansus memang kerap terjadi.

Tantangan Besar Bangsa dan Rakyat

Tantangan besar bangsa Indonesia kini adalah bagaimana menjawab perkembangan Indonesia yang berada di ambang pintu kebesaran dan kemajuan, dengan suatu kepemimpinan, kebijakan, dan program yang tepat agar dapat mewujudkan kesempatan ini menjadi kenyataan. Kesempatan baik ini mungkin tidak akan berulang.

Kita telah diakui sebagai anggota G-20 yang secara informal dianggap sebagai ”direksi” pemerintahan dunia karena perangkat yang diciptakan hingga kini semenjak Perang Dunia II, baik dalam kerangka Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) maupun di antara lembaga-lembaga Perjanjian Bretton Woods, sudah tidak memadai lagi. Kita pun diharapkan dapat memimpin ASEAN di kawasan Asia Tenggara dan menjadi negara penting dalam perkembangan kawasan Asia Timur dan Asia Pasifik.

Untuk itu, tidak cukup jika kita hanya dapat mengikuti dan menyelami masalah-masalah yang ditimbulkan oleh pemerintahan global. Meskipun ini merupakan bagian yang penting untuk kita kuasai, kita harus ikut mengatur perkembangan serta kemajuan negara dan bangsa sendiri. Ini adalah suatu tantangan besar.

Seperti sedang kita alami sekarang, kepemimpinan nasional lemah dan tidak tegas, parlemen masih tidak menyadari betapa besarnya tantangan bangsa dan negara sehingga mereka hanya bermain politik-politikan yang tidak membawa manfaat bagi bangsa keseluruhan, tetapi malah memecah belahnya dengan hanya mementingkan kepentingan pribadi atau kelompok.

Masalah-masalah yang ditekuni, seperti kasus Bank Century dan Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-China (ACFTA), tidak dilakukan demi kepentingan bersama, tetapi demi kepentingan kelompok-kelompok sehingga mengalihkan perhatian dari tantangan besar bangsa dan negara. Kasus Bank Century dijadikan alat kepentingan kelompok untuk melakukan perombakan (reshuffle) kabinet ataupun menggantikan pejabat-pejabat yang notabene dianggap masyarakat paling bersih dan jujur.

ACFTA yang tidak banyak berpengaruh pada masuknya barang-barang China ke Indonesia mau dibongkar karena alasan-alasan politis belaka yang tidak akan membawa perbaikan dalam daya saing industri kita. Yang harus diupayakan adalah bagaimana mengurangi ongkos tinggi bagi industri dan perdagangan kita dengan menekankan agar pemerintah menciptakan infrastruktur yang telah ketinggalan semenjak 1998, menghapus pungli-pungli, menurunkan suku bunga untuk pinjaman-pinjaman usaha UKM, mengatur lebih baik kesejahteraan buruh yang memadai dan adil (sambil menghilangkan hambatan-hambatan yang mengganggu), serta memberantas penyelundupan-penyelundupan yang masih saja terjadi karena korupsi.

Kita harus bangga telah mencapai tahap tinggal landas (take off) menjadi bangsa besar dan maju. Namun, sekarang ini kita harus melaksanakan serangkaian kebijakan yang benar-benar diimplementasikan agar take off itu bisa berkelanjutan. Tanpa perkembangan industri dan hanya mengandalkan pertanian dan sumber alam, tidak akan cukup untuk memberikan pekerjaan yang layak bagi buruh dan petani kita. Sumber alam dan hasil pertanian harus dapat diolah dengan membangun industri hulu dan hilir yang tangguh agar menambah pekerjaan bagi rakyat yang jauh masih ketinggalan.

Beri contoh

Kepemimpinan nasional harus memberi percontohan dan kepemimpinan kepada bangsa dan negara secara visionary dan dengan hati besar. Bukan dengan merengek dan mengeluh tentang masalah-masalah sepele yang tidak ada gunanya bagi pekerjaan besar yang dihadapi. Dia harus berani, tetapi cukup bijak. Dia harus terbuka kepada semua, tetapi tetap berani mengambil putusan. Dia harus bisa bermain politik, tetapi menjaga statesmanship yang diperlukan sebagai pemimpin bangsa.

Dia harus dapat membela pembantu-pembantunya, dan jangan tinggal diam bila mereka diserang agar mereka pun loyal pada kepemimpinannya dan sungguh-sungguh membantunya. Dia harus mendengar kritik dan terbuka untuk koreksi karena akhirnya bangsa ini menghendaki suatu demokrasi sejati. Para pembantu dan penasihat-penasihat harus datang dari segala macam pandangan politik, bukan terdiri atas orang-orang yang hanya memuji-muji.

Kita telah melalui pemilihan umum yang meskipun banyak kekurangannya diterima oleh bangsa. Sebab, rakyat mau berusaha menghidupkan demokrasi di negara Indonesia. Oleh sebab itu, pimpinan nasional hendaknya jangan ketakukan bahwa sistem yang didukung rakyat ini akan dilanggar dengan cara-cara inkonstitusional oleh mereka.

Ini kesempatan terakhir kita karena kemajuan dan perubahan dunia dan kawasan kita dahsyat, cepat, dan fundamental. Momentum sejarah ini bisa membawa kita jadi bangsa besar, maju, demokratis, dan berkeadilan sosial. Kesempatan ini harus kita tangkap dengan melaksanakan hal-hal besar seperti diharapkan dan ditunggu rakyat. Kita ikut bertanggung jawab untuk itu.

Jusuf Wanandi, Wakil Ketua Dewan Penyantun Yayasan CSIS, [Kompas, 10/2/10].

----------

Bangsa yang besar dan maju adalah bangsa yang selalu siap sebagai bangsa pembelajar. Di dalam prosesnya, bangsa itu akan selalu berada dalam segala macam tantangan, siap menghadapinya, kemudian mengubah berbagai tantangan dan rintangan menjadi harapan dan kesempatan untuk memajukan bangsanya.

Maka berbahagialah suatu bangsa apabila mendapati para pemimpinnya adalah seorang yang arif bijaksana, adil dan tegas. Yang selalu siap menjadi teladan pemimpin pembelajar, yang kemudian akan membawa bangsanya menjadi bangsa yang besar, maju, dan rakyatnya pun hidup bahagia sejahtera.

Menuju Indonesia sejahtera, maju dan bermartabat.

Jumat, 18 Desember 2009

Perdagangan Internasional

        Perdagangan internasional adalah perdagangan yang dilakukan oleh penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain atas dasar kesepakatan bersama. Penduduk yang dimaksud dapat berupa antarperorangan (individu dengan individu), antara individu dengan pemerintah suatu negara atau pemerintah suatu negara dengan pemerintah negara lain. Di banyak negara, perdagangan internasional menjadi salah satu faktor utama untuk meningkatkan GDP. Meskipun perdagangan internasional telah terjadi selama ribuan tahun (lihat Jalur Sutra, Amber Road), dampaknya terhadap kepentingan ekonomi, sosial, dan politik baru dirasakan beberapa abad belakangan. Perdagangan internasional pun turut mendorong Industrialisasi, kemajuan transportasi, globalisasi, dan kehadiran perusahaan multinasional.


Teori Perdagangan Internasional

      Menurut Amir M.S., bila dibandingkan dengan pelaksanaan perdagangan di dalam negeri, perdagangan internasional sangatlah rumit dan kompleks. Kerumitan tersebut antara lain disebabkan karena adanya batas-batas politik dan kenegaraan yang dapat menghambat perdagangan, misalnya dengan adanya bea, tarif, atau quota barang impor.

Selain itu, kesulitan lainnya timbul karena adanya perbedaan budaya, bahasa, mata uang, taksiran dan timbangan, dan hukum dalam perdagangan.


Model Ricardian

Model Ricardian memfokuskan pada kelebihan komparatif dan mungkin merupakan konsep paling penting dalam teori pedagangan internasional. Dalam Sebuah model Ricardian, negara mengkhususkan dalam memproduksi apa yang mereka paling baik produksi. Tidak seperti model lainnya, rangka kerja model ini memprediksi dimana negara-negara akan menjadi spesialis secara penuh dibandingkan memproduksi bermacam barang komoditas. Juga, model Ricardian tidak secara langsung memasukan faktor pendukung, seperti jumlah relatif dari buruh dan modal dalam negara.


Model Heckscher-Ohlin

Model Heckscgher-Ohlin dibuat sebagai alternatif dari model Ricardian dan dasar kelebihan komparatif. Mengesampingkan kompleksitasnya yang jauh lebih rumit model ini tidak membuktikan prediksi yang lebih akurat. Bagaimanapun, dari sebuah titik pandangan teoritis model tersebut tidak memberikan solusi yang elegan dengan memakai mekanisme harga neoklasikal kedalam teori perdagangan internasional.

Teori ini berpendapat bahwa pola dari perdagangan internasional ditentukan oleh perbedaan dalam faktor pendukung. Model ini memperkirakan kalau negara-negara akan mengekspor barang yang membuat penggunaan intensif dari faktor pemenuh kebutuhan dan akan mengimpor barang yang akan menggunakan faktor lokal yang langka secara intensif. Masalah empiris dengan model H-o, dikenal sebagai Pradoks Leotief, yang dibuka dalam uji empiris oleh Wassily Leontief yang menemukan bahwa Amerika Serikat lebih cenderung untuk mengekspor barang buruh intensif dibanding memiliki kecukupan modal.



Faktor Spesifik

Dalam model ini, mobilitas buruh antara industri satu dan yang lain sangatlah mungkin ketika modal tidak bergerak antar industri pada satu masa pendek. Faktor spesifik merujuk ke pemberian yaitu dalam faktor spesifik jangka pendek dari produksi, seperti modal fisik, tidak secara mudah dipindahkan antar industri. Teori mensugestikan jika ada peningkatan dalam harga sebuah barang, pemilik dari faktor produksi spesifik ke barang tersebut akan untuk pada term sebenarnya. Sebagai tambahan, pemilik dari faktor produksi spesifik berlawanan (seperti buruh dan modal) cenderung memiliki agenda bertolak belakang ketika melobi untuk pengednalian atas imigrasi buruh. Hubungan sebaliknya, kedua pemilik keuntungan bagi pemodal dan buruh dalam kenyataan membentuk sebuah peningkatan dalam pemenuhan modal. Model ini ideal untuk industri tertentu. Model ini cocok untuk memahami distribusi pendapatan tetapi tidak untuk menentukan pola pedagangan.


Model Gravitasi

Model gravitasi perdagangan menyajikan sebuah analisa yang lebih empiris dari pola perdagangan dibanding model yang lebih teoritis diatas. Model gravitasi, pada bentuk dasarnya, menerka perdagangan berdasarkan jarak antar negara dan interaksi antar negara dalam ukuran ekonominya. Model ini meniru hukum gravitasi Newton yang juga memperhitungkan jarak dan ukuran fisik diantara dua benda. Model ini telah terbukti menjadi kuat secara empiris oleh analisa ekonometri. Faktor lain seperti tingkat pendapatan, hubungan diplomatik, dan kebijakan perdagangan juga dimasukkan dalam versi lebih besar dari model ini.


Manfaat perdagangan internasional


Menurut Sadono Sukirno, manfaat perdagangan internasional adalah sebagai berikut.
Memperoleh barang yang tidak dapat diproduksi di negeri sendiri
Banyak faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan hasil produksi di setiap negara. Faktor-faktor tersebut diantaranya : Kondisi geografi, iklim, tingkat penguasaan iptek dan lain-lain. Dengan adanya perdagangan internasional, setiap negara mampu memenuhi kebutuhan yang tidak diproduksi sendiri.
Memperoleh keuntungan dari spesialisasi
Sebab utama kegiatan perdagangan luar negeri adalah untuk memperoleh keuntungan yang diwujudkan oleh spesialisasi. Walaupun suatu negara dapat memproduksi suatu barang yang sama jenisnya dengan yang diproduksi oleh negara lain, tapi ada kalanya lebih baik apabila negara tersebut mengimpor barang tersebut dari luar negeri.
Memperluas pasar dan menambah keuntungan
Terkadang, para pengusaha tidak menjalankan mesin-mesinnya (alat produksinya) dengan maksimal karena mereka khawatir akan terjadi kelebihan produksi, yang mengakibatkan turunnya harga produk mereka. Dengan adanya perdagangan internasional, pengusaha dapat menjalankan mesin-mesinnya secara maksimal, dan menjual kelebihan produk tersebut keluar negeri.
Transfer teknologi modern
Perdagangan luar negeri memungkinkan suatu negara untuk mempelajari teknik produksi yang lebih efesien dan cara-cara manajemen yang lebih modern.


Faktor pendorong

Banyak faktor yang mendorong suatu negara melakukan perdagangan internasional, di antaranya sebagai berikut :
Untuk memenuhi kebutuhan barang dan jasa dalam negeri
Keinginan memperoleh keuntungan dan meningkatkan pendapatan negara
Adanya perbedaan kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam mengolah sumber daya ekonomi
Adanya kelebihan produk dalam negeri sehingga perlu pasar baru untuk menjual produk tersebut.
Adanya perbedaan keadaan seperti sumber daya alam, iklim, tenaga kerja, budaya, dan jumlah penduduk yang menyebabkan adanya perbedaan hasil produksi dan adanya keterbatasan produksi.
Adanya kesamaan selera terhadap suatu barang.
Keinginan membuka kerja sama, hubungan politik dan dukungan dari negara lain.
Terjadinya era globalisasi sehingga tidak satu negara pun di dunia dapat hidup sendiri.


Peraturan/Regulasi Perdagangan Internasional

Umumnya perdagangan diregulasikan melalui perjanjian bilatera antara dua negara. Selama berabad-abad dibawah kepercayaan dalam Merkantilisme kebanyakan negara memiliki tarif tinggi dan banyak pembatasan dalam perdagangan internasional. pada abad ke 19, terutama di Britania, ada kepercayaan akan perdagangan bebas menjadi yang terpenting dan pandangan ini mendominasi pemikiran diantaranegara barat untuk beberapa waktu sejak itu dimana hal tersebut membawa mereka ke kemunduran besar Britania. Pada tahun-tahun sejak Perang Dunia II, perjanjian multilateral kontroversial seperti GATT dab WTO memberikan usaha untuk membuat regulasi lobal dalam perdagangan internasional. Kesepakatan perdagangan tersebut terkadang berujung pada protes dan ketidakpuasan dengan klaim dari perdagangan yang tidak adil yang tidak menguntungkan secara mutual.

Perdagangan bebas biasanya didukung dengan kuat oleh sebagian besar negara yang berekonomi kuat, walaupun mereka terkadang melakukan proteksi selektif untuk industri-industri yang penting secara strategis seperti proteksi tarif untuk agrikultur oleh Amerika Serikat dan Eropa. Belanda dan Inggris Raya keduanya mendukung penuh perdagangan bebas dimana mereka secara ekonomis dominan, sekarang Amerika Serikat, Inggris, Australia dan Jepang merupakan pendukung terbesarnya. Bagaimanapun, banyak negara lain (seperti India, Rusia, dan Tiongkok) menjadi pendukung perdagangan bebas karena telah menjadi kuat secara ekonomi. Karena tingkat tarif turun ada juga keinginan untuk menegosiasikan usaha non tarif, termasuk investasi luar negri langsung, pembelian, dan fasilitasi perdagangan. Wujud lain dari biaya transaksi dihubungkan dnegan perdagangan pertemuan dan prosedur cukai.

Umumnya kepentingan agrikultur biasanya dalam koridor dari perdagangan bebas dan sektor manufaktur seringnya didukung oleh proteksi. Ini telah berubah pada beberapa tahun terakhir, bagaimanapun. Faktanya, lobi agrikultur, khususnya di Amerika Serikat, Eropa dan Jepang, merupakan penanggung jawab utama untuk peraturan tertentu pada perjanjian internasional besar yang memungkinkan proteksi lebih dalam agrikultur dibandingkan kebanyakan barang dan jasa lainnya.

Selama reses ada seringkali tekanan domestik untuk meningkatkan arif dalam rangka memproteksi industri dalam negri. Ini terjadi di seluruh dunia selama Depresi Besar membuat kolapsnya perdagangan dunia yang dipercaya memperdalam depresi tersebut.

Regulasi dari perdagangan internasional diselesaikan melalui World Trade Organization pada level global, dan melalui beberapa kesepakatan regional seperti MerCOSUR di Amerika Selatan, NAFTA antara Amerika Serikat, Kanada dan Meksiko, dan Uni Eropa anatara 27 negara mandiri. Pertemuan Buenos Aires tahun 2005 membicarakan pembuatan dari Free Trade Area of America (FTAA) gagal total karena penolakan dari populasi negara-negara Amerika Latin. Kesepakatan serupa seperti MAI (Multilateral Agreement on Invesment) juga gagal pada tahun-tahun belakangan ini.


Elastisitas (ekonomi)

Penggunaan

Penggunaan paling umum dari konsep elastisitas ini adalah untuk meramalkan apa yang akan barang/jasa dinaikkan. Pengetahuan mengenai seberapa dampak perubahan harga terhadap permintaan sangatlah penting. Bagi produsen, pengetahuan ini digunakan sebagai pedoman seberapa besar ia harus mengubah harga produknya. Hal ini sangat berkaitan dengan seberapa besar penerimaan penjualan yang akan ia peroleh. Sebagai contoh, anggaplah biaya produksi sebuah barang meningkat sehingga seorang produsen terpaksa menaikkan harga jual produknya. Menurut hukum permintaan, tindakan menaikkan harga ini jelas akan menurunkan permintaan. Jika permintaan hanya menurun dalam jumlah yang kecil, kenaikan harga akan menutupi biaya produksi sehingga produsen masih mendapatkan keuntungan. Namun, jika peningkatan harga ini ternyata menurunkan permintaan demikian besar, maka bukan keuntungan yang ia peroleh. Hasil penjualannya mungkin saja tidak dapat menutupi biaya produksinya, sehingga ia menderita kerugian. Jelas di sini bahwa produsen harus mempertimbangkan tingkat elastisitas barang produksinya sebelum membuat suatu keputusan. Ia harus memperkirakan seberapa besar kepekaan konsumen atau seberapa besar konsumen akan bereaksi jika ia mengubah harga sebesar sepuluh persen, dua puluh persen, dan seterusnya.
[sunting]
Definisi matematis

Koefesien elastisitas diukur dari persentase perubahan kuantitas barang dibagi dengan persentase perubahan harga. Secara sederhana kalimat tersebut dapat dirumuskan:


Atau secara umum, elastisitas "y terhadap x" adalah:
.

Elastisitas biasa disimbolkan sebagai 'E', 'e' atau epsilon kecil, 'ε'. Selain elastisitas linier tersebut ada juga elastisitas non linier

Penerapan Ekonomi Mikro

Ekonomi mikro yang diterapkan termasuk area besar belajar, banyak diantaranya menggambarkan metode dari yang lainnya. Regulasi dan organisasi industri mempelajari topik seperti masuk dan keluar dari firma, inovasi, aturan merek dagang. Hukum dan Ekonomi menerapkan prinsip ekonomi mikro ke pemilihan dan penguatan dari berkompetisi dengan rezim legal dan efisiensi relatifnya. Ekonomi Perburuhan mempelajari upah, kepegawaian, dan dinamika pasar buruh. Finansial publik (juga dikenal dengan ekonomi publik) mempelajari rancangan dari pajak pemerintah dan kebijakan pengeluaran dan efek ekonomi dari kebijakan-kebijakan tersebut (contohnya, program asuransi sosial). Ekonomi kesehatan mempelajari organisasi dari sistem kesehatan, termasuk peran dari pegawai kesehatan dan program asuransi kesehatan. Politik ekonomi mempelajari peran dari institusi politik dalam menentukan keluarnya sebuah kebijakan. Ekonomi kependudukan, yang mempelajari tantangan yang dihadapi oleh kota-kota, seperti gepeng, polusi air dan udara, kemacetan lalu-lintas, dan kemiskinan, digambarkan dalam geografi kependudukan dan sosiologi. Finansial Ekonomi mempelajari topik seperti struktur dari portofolio yang optimal, rasio dari pengembalian ke modal, analisa ekonometri dari keamanan pengembalian, dan kebiasaan finansial korporat. Bidang Sejarah ekonomi mempelajari evolusi dari ekonomi dan institusi ekonomi, menggunakan metode dan teknik dari bidang ekonomi, sejarah, geografi, sosiologi, psikologi dan ilmu politik.

Kegagalan Pasar

Dalam ekonomi mikro, istilah "kegagalan pasar" tidak berarti bahwa sebuah pasar tidak lagi berfungsi. Malahan, sebuah kegagalan pasar adalah situasi dimana sebuah pasar efisien dalam mengatur produksi atau alokasi barang dan jasa ke konsumen. Ekonom normalnya memakai istilah ini pada situasi dimana inefisiensi sudah dramatis, atau ketika disugestikan bahwa institusi non pasar akan memberi hasil yang diinginkan. Di sisi lain, pada konteks politik, pemegang modal atau saham menggunakan istilah kegagalan pasar untuk situasi saat pasar dipaksa untuk tidak melayani "kepentingan publik", sebuah pernyataan subyektif yang biasanya dibuat dari landasan moral atau sosial.

Empat jenis utama penyebab kegagalan pasar adalah :
Monopoli atau dalam kasus lain dari penyalahgunaan dari kekuasaan pasar dimana "sebuah" pembeli atau penjual bisa memberi pengaruh signifikan pada harga atau keluaran. Penyalahgunaan kekuasaan pasar bisa dikurangi dengan menggunakan undang-undang anti-trust.[5]
Eksternalitas, dimana terjadi dalam kasus dimana "pasar tidak dibawa kedalam akun dari akibat aktivitas ekonomi didalam orang luar/asing." Ada eksternalitas positif dan eksternalitas negatif.[5] Eksternalitas positif terjadi dalam kasus seperti dimana program kesehatan keluarga di televisi meningkatkan kesehatan publik. Eksternalitas negatif terjadi ketika proses dalam perusahaan menimbulkan polusi udara atau saluran air. Eksternalitas negatif bisa dikurangi dengan regulasi dari pemerintah, pajak, atau subsidi, atau dengan menggunakan hak properti untuk memaksa perusahaan atau perorangan untuk menerima akibat dari usaha ekonomi mereka pada taraf yang seharusnya.
Barang publik seperti pertahanan nasional[5] dan kegiatan dalam kesehatan publik seperti pembasmian sarang nyamuk. Contohnya, jika membasmi sarang nyamuk diserahkan pada pasar pribadi, maka jauh lebih sedikit sarang yang mungkin akan dibasmi. Untuk menyediakan penawaran yang baik dari barang publik, negara biasanya menggunakan pajak-pajak yang mengharuskan semua penduduk untuk membayar pda barang publik tersebut (berkaitan dengan pengetahuan kurang dari eksternalitas positif pada pihak ketiga/kesejahteraan sosial).
Kasus dimana terdapat informasi asimetris atau ketidak pastian (informasi yang inefisien)[5]. Informasi asimetris terjadi ketika salah satu pihak dari transaksi memiliki informasi yang lebih banyak dan baik dari pihak yang lain. Biasanya para penjua yang lebih tahu tentang produk tersebut daripada sang pembeli, tapi ini tidak selalu terjadi dalam kasus ini. Contohnya, para pelaku bisnis mobil bekas mungkin mengetahui dimana mbil tersebut telah digunakan sebagai mobil pengantar atau taksi, informasi yang tidak tersedia bagi pembeli. Contoh dimana pembeli memiliki informasi lebih baik dari penjual merupaka penjualan rumah atau vila, yang mensyaratkan kesaksian penghuni sebelumnya. Seorang broker real estate membeli rumah ini mungkin memiliki informasi lebih tentang rumah tersebut dibandingkan anggota keluarga yang ditinggalkan. Situasi ini dijelaskan pertamakali oleh Kenneth J. Arrow di artikel seminartentang kesehatan tahun 1963 berjudul "ketidakpastian dan Kesejahteraan Ekonomi dari Kepedulian Kesehatan," di dalam American Economic Review. George Akerlof kemudian menggunakan istilah informasi asimetris pada karyanya ditahun 1970 The Market for Lemons. Akerlof menyadari bahwa , dalam pasar seperti itu, nilai rata-rata dari komoditas cenderung menurun, bahkan untuk kualitas yang sangat sempurna kebaikannya, karena para pembelinya tidak memiliki cara untuk mengetahui apakah produk yang mereka beli akan menjadi sebuah "lemon" (produk yang menyesatkan).